Senin, 27 Maret 2017
SEKILAS TENTANG HARI RAYA NYEPI
Selasa, 25 September 2012
OBSERVASI FAJAR SHODIQ
- Fajar Kadzib atau Fajar yang membohongi, alias fajar itu munculnya akan hilang lagi. Bahasa Astronominya Cahaya Zodiak / Zodiacal Light
- Fajar Shahih atau Fajar yang benar, karena fajar ini akan berlanjut kepada muncul atau terbitnya sang surya yakni matahari. Bahasa Astronominya Astronomical Twilight.
- Kriteria Standar mengambil sudut Isyaa = -18, dan Shubuh = -18°.
- Mesir mengambil sudut Isyaa = -17.5°, dan Shubuh = -19.5°.
- Masyarakat Islam Amerika Utara, sudut Isyaa = -15°, dan Shubuh = -15°.
- Liga Muslim Dunia, Isyaa = – 17°, dan Shubuh = -18°.
- Depag RI, Isyaa = -18°, dan Shubuh = -20°.
Minggu, 04 September 2011
PERBANDINGAN PENANGGALAN
Ibadah umat Islam ada yang didasarkan pada peredaran bulan dan ada yang berdasarkan pada matahari. Berkaitan dengan Idul Fitri dasarnya adalah munculnya/terlihatnya bulan sabit muda. Banyak yang kritik penanggalan hijriyah yang didasarkan pada bulan sabit muda tersebut karena berkaitan langsung dengan ibadah umat Islam, dan apakah berlaku global atau dasar wilayah.
Sekedar untuk diketahui bahwa penanggalan yang ada sekarang ini didasarkan pada peredaran bulan dan matahari tersebut, dan ada tiga model penanggalan yaitu solar system, lunar system dan lunisolar. Masing-masing ketiga system tersebut mempunyai kelemahan.
Dalam Lunar System, kelemahannya adalah tidak bisa ditetapkannya garis batas wilayah, karena kalau bulan sabit muda didasarkan pada sejajarnya matahari dan bulan dalam garis bujur astronomi (konjungsi), maka garispenanggalannya akan berubah setiap bulan.
Kelemahan Solar System seperti penanggalan Miladiyah yang ada sekarang adalah bahwa peredaran bumi mengelilingi matahari sebanyak 365,25 hari, artinya ada selisih ¼ hari yang dibulatkan dalam tahun keempat menjadi tahun panjang yang umur bulan terakhirnya yaitu Pebruari menjadi 29 hari, dan penamaan bulan tidak ada kaitan sama sekali dengan peredaran bulan, hanya membagi jumlah keseluruhan menjadi 12 yang diatur sebanyak 30, 31 serta 28 dan 29 hari dalam setiap bulan. Penanggalan miladiyah sempat mengalami dua kali pembetulan. Hal ini bagi sebagian dianggap biasa, tetapi sebenarnya enunjukkan pula bahwa kalender ini mempunyai kelemahan.
Penanggalan Lunisolar merupakan penggabungan kedua system diatas. Penanggalan ini menetapkan peredaran bumi mengelilingi matahari sebagai tahunannya dan peredaran bulan mengelilingi bumi sebagai sebutan bulan. Dengan demikian akan ada selisih 10 hari dalam setiap tahun dan dalam tahun ketiga akan terkumpul 30 hari dan menjadi bulan ke-13. penganut system ini yaitu penanggalan Saka Bali dan Cina.
Masing-masing penanggalan sebenarnya mempunyai kelebihan dan kekurangan. Pernah terjadi pelaksanaan Kasada umat Hindu di gunung Bromo dilaksanakan tidak pada bulan purnama, ada pertanyaan juga apakah benar kelahiran al-Masih pada tanggal 25 Desember,
Akhir-akhir ini yang menjadi sorotan adalah seringnya terjadi perbedaan pelaksanaan Idul Fitri dan Idul Adha bagi umat Islam. Islam adalah agama rahmatan lil’alamin dan berlaku umum tanpa mengutamakan suku dan ras, dalam hal ibadah tidak bisa suatu daerah dijadikan dasar pelaksanaannya kecuali yang sudah ditentukan sebagai rukun dan syarat suatu ibadah, jika ibadah berkaitan dengan tempat tertentu maka tempat tersebutlah yang dijadikan dasar pelaksanaannya, akan tetapi jikalau ibadah tersebut berkaitan dengan waktu, maka waktu setempatlah yang dijadikan dasar. Pada dasarnya perbedaan penetapan waktu suatu daerah dengan daerah lain sebagaimana bedanya waktu sholat antara suatu daerah dengan daerah lain. Wallahua’lam..
Senin, 07 Desember 2009
Gerhana Bulan Sebagian (GBS) di akhir 2009

Selain pertunjukan meteor Geminds yang mengakhiri tahun 2009 ini, mengawali tahun 2010 langit Indonesia juga akan dihiasi dengan peristiwa astronomis musiman yaitu Gerhana Bulan. Seperti sudah diketahui gerhana Bulan terjadi akibat posisi Matahari-Bumi-Bulan segaris, saat itu bayangan Bumi yang seharusnya sampai di permukaan Bulan akan terhalang sebagian atau seluruhnya sehingga permukaan Bulan terlihat gelap. Saat Bulan tertutup seluruhnya disebut Gerhana Bulan Total (GBT) dan saat Bulan hanya tertutup sebagian disebut Gerhana Bulan Sebagian (GBS).
Gerhana kali ini juga mengawali purnama pertama di tahun 1431 H. ini berupa Gerhana Bulan Sebagian (GBS) atau dalam istilah asingnya disebut Partial Lunar Eclipse. Kabar baiknya peristiwa ini adalah ia dapat diamati dari seluruh kawasan Indonesia sambili merayakan datangnya pergantian tahun baru 2009/2010.
Menurut keterangan dari NASA, gerhana kali ini merupakan gerhana Seri Saros yang ke-115 anggota ke-57 dari 72 rentetan gerhana dalam seri tersebut. Kontak umbra yang merupakan kontak dimana dapat diamati dengan mata telanjang ini hanya menutup sedikit sisi Selatan Bulan ini hanya berlangsung sekitar 1 jam dengan maksimum gerhana terjadi pada sekitar pukul 02:23 WIB. Sehingga para pengamat gerhana hanya akan menyaksikan wajah Bulan yang sedang purnama pagi itu sedikit gelap pada sisi sebelah Selatannya. Penampilan Bulan malam itu di Langit Barat juga akan bertambah menarik karena ditemani oleh konstelasi atau rasi Orion yang orang Jawa menyebutnya sebagai "Lintang Waluku" berada tepat di sebelah Selatan Bulan dengan bintangnya yang paling terang yaitu Rigel dan Betegeuse. Bintang Sirius, Procyon dan Capella juga akan terlihat pagi itu.
Tahapan Kontak Gerhana :
P1 (Kontak Penumba Mulai) = 00:17:08 WIB
U1 (Kontak Umbra Mulai) = 01:52:43 WIB
Maksimum Gerhana = 02:22:39 WIB
U4 (Kontak Umbra Selesai) = 02:52:41 WIB
P4 (Kontak Penumbra Selesai) = 04:28:11 WIB
Kecuali Indonesia, sebagian besar wilayah Asia dan Afrika juga dapat penyaksikan peristiwa astronomis ini. Jadi tunggu apa lagi segera rencanakan malam Tahun Baru 2010 anda untuk juga menyaksikan peristiwa yang cukup langka dan jarang terjadi ini. Teleskop dan binokuler adalah pilihan terbaik untuk dapat mengamati peristiwa ini dengan baik. Untuk itu bergabunglah dengan klub-klub astronomi yang ada di sekitar anda yang menyediakan sarana pengamatan menggunakan perlengkapan astronomi.
Gerhana, baik itu Gerhana Matahari maupun Gerhana Bulan merupakan peristiwa alam biasa yang secara astronomis dapat dihitung kapan akan terjadi. Peristiwa gerhana bukan tanda kelahiran atau kematian seseorang akan pertanda akan datangnya bencana namun gerhana merupakan momen untuk merenungkan kembali tanda Kemahabesaran Allah SWT, Tuhan Pencipta Alam Semesta. Maka dari itu umat Islam dihimbau untuk memberikan makna akan kehadiran gerhana dengan memperbanyak doa, takbir dan sedekah seperti yang diajarkan Rasulullah serta disunahkan melaksanakan shalat khusuf atau shalat gerhana sesuai tuntunan yang berlaku.
Sumber : Mutoha Arkanuddin
Selasa, 03 Februari 2009
Tahun ini adalah tahun istimewa bagi ahli astronomi/falak Indonesia, karena di tahun ini kita bisa menyaksikan dua kali gerhana matahari, yaitu tanggal 26 Januari 2009 dan 22 Juli 2009.
Yang pertama adalah Gerhana Cincin yang terjadi pada hari Senin Wage, 26 Januari 2009 M. bertepatan dengan 29 Muharrom 1430 H. Fonemena gerhana matahari ini tentu punya arti tersendiri bagi warga Tionghoa karena terjadi tepat pada tahun baru Imlek 2560 yakni tahun Kerbau
Gerhana ini meliputi wilayah Asia Tenggara, Australia, India Selatan, Madagaskar dan Afrika Selatan. Dari wilayah tersebut tidak semuanya mengalami gerhana cincin, gerhana cincin hanya bisa disaksikan dari sebagian wilayah Indonesia. Tepatnya dari kota Tanjungredep Kalimantan Timur memanjang ke barat agak serong ke selatan, menuju kota Ketapang Kalimantan Barat dan melintasi kota Bandar Lampung. Gerhana cincin juga bisa disaksikan dari ujung barat pulau Jawa tepatnya daerah Banten dan sekitarnya.
Diantara wilayah Indonesia yang paling banyak dilintasi gerhana cincin ini adalah Kalimantan sedangkan Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara, Bali, sebagian besar pulau Jawa dan Sumatera hanya mengalami gerhana sebagian. Adapun Maluku Utara dan Irian tidak bisa menikmati fonemena ini secara utuh karena pada saat tengah gerhana matahari sudah tenggelam di ufuk barat. Berikut ini kronologi gerhana dilihat dari beberapa kota besar di Indonesia.
Adapun gerhana matahari yang kedua yaitu Gerhana Total yang terjadi pada hari Rabu Legi, tanggal 22 Juli 2009 M. bertepatan dengan tanggal 29 Rojab 1430 H.
Gerhana meliputi Laut Pasifik, Asia tenggara Jepang, China, Nepal dan India. Adapun wilayah Indonesia yang dilintasi gerhana ialah Irian Jaya, Malauku, Sulawesi bagian utara, Kalimantan bagian tengah dan utara serta Sumatera tengah dan utara. Secara umum gerhana berlangsung mulai pukul 07 WIB sampai 09 WIB. Sementara untuk pula Jawa, Bali, Lombok dan Nusa Tenggara tidak mengalami gerhana. Dari Indonesia gerhana matahari ini hanya bersifat parsial alias tidak total, kurang lebih 20%, sedangkan yang mengalami gerhana total hanyalah China, Banglades dan India.
Selasa, 30 September 2008
Pada hari Senin, 29 September 2008, setelah melaksanakan sholat Dhuhur berjamaah, tim hisab rukyah Kota Batu bersiap untuk melaksanakan rukyatul hilal di lokasi pangkalan Hellyped Satuan Radar TNI Angkatan Udara Ngliyep Malang. Tim yang terdiri dari dua mobil sebanyak 15 orang tersebut merupakan anggota Badan Hisab Rukyat Kota Batu yang merupakan representasi dari ormas Islam dan pemerhati hisab rukyat di Kota Batu.
Tim Kota Batu sampai di lokasi pada pukul 02.30 WIB dan bergabung dengan panitia dan tim-tim lainnya dari wilayah karesidenan Malang. Bersama dengan panitia, sebagian anggota tim mempersipkan peralatan yang dibutuhkan untuk membantu pengamat dalam menentukan azimut hilal maupun ka'bah.
Setiap pelaksanaan observasi hilal (rukyatul hilal) untuk menentukan masuknya masuknya bulan baru di Ngliyep, panitia menyediakan berbagai alat penunjang antara lain, benang azimut, garis busur, kompas, gawang lokasi, Global Positioning Sistem (GPS), teropong bintang, beberapa set komputer dan LCD.
Setelah berbagai seremoni dan ceramah agama dilaksanakan, panitiapun membimbing pelaksanaan rukyatul hilal yang dimulai dengan membacakan hasil hisab dari berbagai ormas dan muhasib dengan beragam metode dan sumbernya yang otomatis juga dengan berbagai hasil yang berbeda pula, akan tetapi sebagian besar hasil hisab menunjukkan bahwa hilal masih berada di bawah ufuk ketika matahari terbenam di pantai Ngliyep. Hanya saja, sebagaimana biasa di Ngliyep kabut tebal menyelimuti sehingga praktis hilal yang dicari tidak mungkin untuk dilihat dalam kondisi yang demikian meskipun berada di atas ufuk. Yang disayangkan dari panitia, adalah ketika kondisi tersebut muncul (tidak memungkinkan untuk dirukyah karena kabut), panitia malah mengarahkan pandangan pengamat ke arah layar dengan menampilkan animasi proses turunnya hilal dari program komputer, menurut saya itu adalah suatu kesalahan panitia, karena bagaimanapun, panitia harus tetap mengajak kepada perukyat untuk tetap fokus pada lokasi dan obyek yang akan dirukyat sampai batas toleran waktu yang ditetapkan.
Setelah semua proses terlewati dan tidak ada seorangpun dari pengamat yang berjumlah ratusan orang tersebut yang mengaku melihat hilal, seluruh pengamat melaksanakan sholat berjamaah setelah sebelumnya menikmati takjil yang telah disediakan panitia dan kemudian dilanjutkan dengan berbuka puasa.
Sesampai di rumah, saya menginformasikan hasil rukyatul hilal tersebut kepada warga di sekitar tempat tinggal saya. Tetapi alangkah kagetnya saya ketika salah seorang warga memberitahu saya bahwa Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) sudah memastikan bahwa hari raya jatuh pada hari selasa, tanggal 30 September 2008, karena beberapa tempat di Saudi dinyatakan teleh melihat hilal, ditambah lagi setelah saya menyaksikan berita di beberapa media bahwa juga ada beberapa daerah atau kelompok yang berhari raya lebih dahulu dari pemerintah yang menetapkan tanggal 1 Oktober 2008. Padahal saya mengharapkan dan juga memprediksikan bahwa pada tahun ini hari rayanya umat Islam seluruh Indonesia akan seragam. Tetapi harapa hanyalah harapan. Lagi-lagi hari rayanya berbeda.
Sebenarnya saya tidak mempermasalahkan apakah yang dipergunakan rukyah global, wujudul hilal atau imkanur rukyah yang dijdikan pedoman bagi ormas-ormas Islam yang ada, karena memang saya juga yakin bahwa masing-masing mempunyai alasan yang kuat, dan benar tidaknya alasan tersabut hanya Allah SWt Yang Maha Tahu. Hanya saja, sebagai seorang muslim yang menginginkan adanya kebersamaan dan ciri khas sebagai simbol kesatuan kaum muslimin, saya maih tetap menginginkan agar perbedaan yang ada tersebut tidak terlalu ditonjolkan. Akan tetapi, sebagian orang menganggap (mudah-mudahan ini anggapan yang salah) bahwa hal tersebut muncul karena ormas-ormas besar mempertahankan egonya masing-masing, bahkan ada sebagian kelompok masyarakat yang lebarannya dua hari sebelum pemerintah, masyarakatnya tidak tahu menahu dasar perhitungan Kiyai nya, mereka hanya mengikuti Kiyai nya saja.
Cara yang bisa dijadikan solusi adalah semua ormas-ormas maupun kelompok tersebut tunduk pada pemerintah, dalam hal ini adalah Departemen Agama. Biarlah pemerintah yang menetapkannya, masyarakat diharapkan tunduk pada keputusan tersebut, karena taat kepada pemerintah sama halnya dengan taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan taat kepada pemerintah bagi kaum muslimin hukumnya wajib. Janganlah takut bahwa pemerintah salah dalam menentukan sesuatu, karena kesalahan pemerintah akan ditanggung oleh pemerintah sendiri kepada Allah atas kepemimpinannya, sedangkan kaum muslimin tetap akan mendapat pahala dari ibadah-ibadahnya tersebut.
Adapun perbedaan keyakinan dari ormas-ormas yang ada jangan terlalu ditonjolkan, perbedaan tersebut tidak perlu diumumkan kepada masyarakat luas yang menyebabkan kaum muslim pengikutnya terpecah-belah.
Demikian ganjalan dalam diri saya, semoga suatu saat kaum muslimin akan tunduk pada pemerintahnya. Karena itu juga merupakan perintah agama.
Senin, 01 September 2008
RUKYATUL HILAL
Berdasarkan perhitungan dari berbagai metode yang dikumpulkan oleh panitia, diperkirakan pada saat matahari terbenam pada hari itu, hilal sudah berada pada posisi 5 s.d 7 derajat. dan hilal akan muncul sekitar 20 sd. 30 menit.
Panitia mempersiapkan berbagai sarana dan prasarana untuk menunjang kegiatan rukyatul hilal tersebut, diantaranya adalah gawang lokasi, benang azimut, bahkan teropong canggih yang dimiliki oleh Pemkab Malang.
Tim hisab rukyat kota Batu dengan muhasibnya SAIFUL HIKMAH, M.Ag, dan Ir. ZULKIFLI, S.Ag juga melaksanakan perhitungan dengan menggunakan 2 metode hisab, yaitu sistem Ephimeris dan sistem New Comb. hasil perhitungan tim hisab rukyat Kota Batu juga tidak jauh bed dengan hasil perhitungan muhasib lainnya.
Dalam pelaksanaan rukyatul hilal tersebut, hilal tidak nampak "adam wujudul hilal". disebabkan karena wilayah Ngliyep tertutup oleh awan, sehingga para perukyat maupun peralatan yang disediakan oleh panitia berupa teropong LG yang dikoneksikan dengan LCD proyektor tidak berhasil menangkan wujud/gambar hilal tersebut.
Meskipun di Ngliyep, hilal tidak nampak, di titik rukyatul hilal lainnya hilal telah nampak, khususnya di Jawa Timur yaitu di Gresik dan Bangkalan. Oleh karena itu, pemerintah pusat, dalam hal ini Departemen Agama RI, telah mengadakan sidang itsbat penentuan awal Ramadlan 1429 H. dan menetapkan bahwa hari Seni, 01 September 2008 sebagai tanggal 1 Ramadlan 1429 H.
Selamat menjalankan ibadah puasa bagi kaum muslimin dan muslimat di seluruh dunia, semoga amalan kita di bulan Ramadalan tahun ini diterima oleh Allah SWT, dan pahalanya dilipatgandakan.
Jumat, 29 Agustus 2008
Awal Puasa 2008
METODE EPHIMERIS
Oleh : Saiful Hikmah, S.Ag
Lokasi Ngliyep, Bujur = 112° 25' 48.9", Lintang = -8° 21' 20", Ketinggian = 230.5 m pada Tanggal 29 Sya'ban 1428 H (Awal Ramadlan 1428 H.) / 31 Agustus 2008. Sunset
Data
FIB = 0.00023 Jam 20 GMT
ELM = 157° 48’ 16” 157° 50’ 41” = 0° 2’ 25”
ALB = 157° 48’ 37” 158° 22’ 41” = 0° 34’ 4”
Ijtima’ = FIB+((ELM – ELB)/(SB – SM))+7 = 2° 59’ 20.19”
φ = - 8° 1’ 20’’
dM = 8° 29’ 04”
dB = 3° 9’ 20”
sdM = 0° 15’ 50.72”
sdB = 0° 15’ 42.70” 0° 15’ 42.26” = 0° 15’ 42.48”
Paralak = 0° 57’ 38”
ARM = 160° 00’ 18” 160° 02’ 34” = 160° 1’ 26.76”
ARB = 165° 55’ 03” 166° 25’ 03” = 166° 10’ 13”
Ref.M = 0° 34’ 30”
Ref.B = 0.0167/tan(hc + 7.31 / (hc + 4.4 ) = 5° 26’ 40.77”
Dip. = (1.76√230.5)/60 = 0° 26’ 43.24”
Perhitungan
h = 0 - (sdM + Ref.M + Dip) = - 1° 17’ 38”
t = Cos –1(-tan φ x Tan d + Sin h Cos φ / Cos d) = 90° 4’ 0.89”
Ghurub = t/15+ (12-e + Kwd = 17° 30’ 20” WIB.
tc = (ARM-ARB) + t = 83° 55’ 14.65”
hc = Sin -1 (-Sin φ x tan dc + Cos φ x Cos dc x Cos tc) = 5° 32’ 38.34”
h' = hc – P + sdc + Ref + Dip = 5° 26’ 40.77”
Az = Tan-1 (-Sin φ /Tan t + Cos φ x Tan d / Sin t) = 8° 19’ 12.62”
Az = Tan-1 (-Sin φ /Tan tc + Cos φ x Tan dc / Sin tc) = 4° 1’ 22.84”
